Minggu, 10 Maret 2013

Gunung Bromo

Ada banyak hal yang cukup berpengaruh terjadi di awal-awal tahun ini. Aku belajar lagi banyak hal baru, dalam perjalanan dan hidup ini. Mengenai mimpi, alam, petualangan, materi, cinta kasih dan permainan.

Mengakhiri dan mengawali tahun di Bromo.
Faiz, beberapa minggu sebelom 'H' kita berencana bersama untuk sebuah trip. Perjalanan besar untuknya, petualangan untuk ku. Sebenarnya ada unsur pemanfaatan di sini, karena 'MISI BESAR' ada di benak faiz. Beberapa kali pertemuan, akhirnya ditentukan hari Jumat kita berangkat, tanggal 30 Desember 2011. Dengan mobil 'pribadi', tapi nyewa. Patungan kesepakatan pada saat itu.

Tujuan, waktu, transportasi, dan anggaran semua sudah fix. Antusias ku membara, meski hanya dengan motiv 'petualangan', karena memang semua perencanaannya terkesan asal-asalan. Sampai beberapa hari mendekati hari 'H' belum terpikir olehku siapa yang akan aku ajak, karena notabene Faiz akan bersama dengan pacarnya, Mina. Belum terpikir, santai dan gak ingin ajak siapa-siapa. 'Merdeka' pikirku waktu itu, 'bersetubuh dengan alam'. Pun faiz sudah ajak Mina dan Anu. Perlu ditegaskan, aku 'single menahun'.

Oke, hari rabu (kalau gak salah, dua hari sebelom 'H') aku pun memutuskan ingin mengajak seseorang, entah siapa. Terlintas pendek saat itu untuk mengajak 'mawar' (nama disamarkan, hehe). Pernah deket, kenapa gak? Dengan motiv biar nge-ramai-in aja, aku kontek aja mawar. Ketik sms, kirim tanpa pikir panjang, tanpa basa-basi. Tanggapanya positif, positif banget, entah karena pernah deket atau apa. Yang sebelumnya jarang ketemu, hampir gak pernah ketemu (kurun waktu 3tahun), bahkan waktu itu dia berencana mampir 'warung' untuk ngobrol lebih jauh tentang rencana ini. Kebetulan waktu itu aku mempunyai sebuah usaha, dan biasa aku meyebut tempat usaha ku tersebut sebagai ‘warung’.

Malam hari, kira-kira setelah maghrib benar dia datang ke warung. Waktu itu dia pulang kerja, mampir sekalian katanya. Memang rumah nya dengan warung hanya berjarak beberapa kilometer, dekat. Agak kumel sih, wajar karena pulang kerja, seharian di lapangan. Sapa sipu diantara kami, sebuah hal wajar karena memang sudah lama sekali tidak bertemu.

Basa basi sebentar, kemudian langsung aku tembak, 'Gimana bisa gak? Kapan lagi nih?!'. Lama, dia berpikir-pikir. Obrolan yang saat itu memang 'mbulet'. Memang sih, sedikit rayu-rayuan terlontar, tapi itu semua meluncur dengan sendirinya. Secara aku (udah) gak jago ngrayu. Panjang lebar, sampai akhirnya dia memutuskan akan memberikan kabar sampai nanti tengah malam, sebelom jam 24.00 (pada hari itu). Yap, gak ada paksaan tapi memang aku berharap ada temen untuk trip kali ini, akhirnya aku tunggu sampai nanti (tengah) malam.

Sampai di tengah malam, jam hampir menunjukkan pukul 24.00 belom ada sms atau telepon masuk, tepatnya belom ada kabar dari dia. Memang aku sengaja tidak menghubungi dia terlebih dahulu, karena dia sendiri sudah berjanji untuk memberikan kabar. Keputusan terakhir memang masih 80:20 untuk ikut trip. Santai pikirku, let it flow (bukan prinsip). Setelah lebih dari tengah malam, akhirnya aku geregeten juga. Aku hubungin dia dulu, sms, 'Gimana, jadi ikut kan?'. Hhmm, ternyata dia masih ragu.

Sampai keesokan harinya belom ada kepastian dari dia. Pengen ikut katanya, tapi ada beberapa hal yang memberatkannya. Beberapa saran solusi aku berikan untuknya, sampai akhirnya dia datang lagi ke warung. Singkatnya, akhirnya dia memutuskan untuk ikut berangkat dalam rencana itu. YES, dapet temen..gak diceng2in sama Faiz dan Mina. Hahahahahaa, minimal dapet temen foto-foto. Toh pada akhirnya Anu juga gak jadi ikut karena alasan yang aku sendiri gak tau.

Jumat, 30 Desember 2011
Semua persiapan udah beres, walaupun memang terkesan agak sedikit asal-asalan. Rencananya kita akan bertolak dari jogja sore hari sekitar pukul 15.00, tapi karena berbagai hal kita baru berkumpul di rumahku dan terkondisikan sekitar pukul 20.00. Sebenernya karena nungguin aku mandi yang agak lama juga sih, karena memang seharian itu aku jaga di warung. Kebetulan waktu itu rumah juga dalam keadaan kosong karena keluarga; bapak, ibuk, mbak dan adik-adikku ada rencana juga ke bandung, entah dalam rangka jalan-jalan tahun baru juga atau apa.

Setelah semua benar-benar terkondisikan, akhirnya kita berangkat dari sleman kurang lebih jam delapan malam. Sekedar info aja, perjalanan ini adalah rencana besar bagi Faiz, dan sampai kita berangkat waktu itu Mina belom tau tujuan kita mau kemana. Sebelum berangkat pun Faiz udah kasi kode ke aku, untuk mampir ke kota baru, tentunya toko bunga. Oke, singkatnya kita sampai di kota baru dan membeli beberapa tangkai bunga, tentunya tanpa sepengetahuan Mina. Entah bener-bener gak tau atau gimana, hehe.

Cukup larut malam saat aku kembali memacu mobil menuju Malang. Sekali lagi, karena persiapan yang terkesan asal-asalan dan diantara kita memang belom pernah ada yang ke bromo, otomatis kita gak ada yang tau jalan menuju ke sana. Kota yang kita tuju pun adalah Malang, yang ternyata cukup jauh dari Bromo.

Sabtu, 31 Desember 2011
Semalam suntuk aku memacu mobil. Tepat setelah matahari terbit, kurang lebih jam enam kita sampai di Malang. Sesampainya di Malang kita pun bingung harus menuju kemana, dengan tanpa memaksimalkan google dan map-nya. Karena aku udah capek dan ngantuk banget, akhirnya aku dan faiz tukeran untuk bawa mobil, sambil tanya-tanya.

Oke, rencana Faiz waktu itu kita akan menuju Bromo via Tumpang. Dari malang kita mencari jalan ke Tumpang. Sampai tengah hari kita belom juga sampai Tumpang. Sampai akhirnya memutuskan untuk sekali lagi tanya ke orang, dan ternyata jalan ke Tumpang terlalu ekstrim untuk mobil yang kita bawa. Bapak tersebut menyarankan kita jangan lewat Tumpang, padahal Tumpang udah gak begitu jauh dari tempat tersebut. Kita disarankan lewat Sukapura. Akhirnya Faiz kembali memacu mobil lagi, ngubek-ngubek Kota Malang. Karena waktu itu aku sempat ketiduran, sampai-sampai gak kerasa kalau waktu ternyata udah cukup sore dan ternyata kita masih ngubek-ngubek Malang. Dengan kata lain, hampir satu hari penuh kita masih ada di Malang, jalan ngalor ngidul ngetan ngulon gak nemu-nemu jalan.

Singkatnya, akirnya kita menemukan jalan yang benar menuju Sukapura kemudian Bromo. Karena gak tega, setelah Sukapura aku gantiin Faiz lagi buat bawa mobil, walaupun perjalanan udah gak begitu jauh. Sekedar info aja, kebetulan waktu itu Faiz juga belom begitu mahir bawa mobil, masih sering ngepot kanan ngepot kiri.

Sudah sangat sore ketika kita memasuki kawasan BTS (Bromo Tengger Semeru). Tanpa pikir panjang dan terlalu banyak istirahat, kita parkir mobil di kawasan Cemoro Lawang. Di sana udah banyak orang nawarin jasa ojek dan jeep. Tawar menawar, akhirnya kita pakai jasa ojek. Dua motor sekaligus kita pinjam, tanpa sopir karena kita bawa sendiri. Untuk tarifnya aku agak sedikit lupa, kalau gak salah kurang lebih 150ribu untuk dua motor, GL Pro.

Dengan motor tersebut kita turun ke kawasan Bromo, ke lautan pasir. Mina dibonceng Faiz, aku boncengin Mawar. Karena waktu memang udah sangat sore dan kabut yang cukup pekat ditambah dengan hujan gerimis romantis, waktu itu kita hanya ke Gunung bromo dan ke puncaknya. Foto-foto sebentar kemudian turun lagi. Karena dekat dan satu arah balik ke Cemoro Lawang, kita mampir di Pura yang dibangun di dekat Gunung Bromo dan Batok, di tengah-tengah lautan pasir, sekedar foto-foto. Sempat juga kita foto-foto di lautan pasir sebelum naik ke Cemoro Lawang.

Puncak Bromo
Gunung Batok
Setelah cukup menggigil dengan jaket dan baju yang hampir basah, kita memutuskan untuk segera naik ke Cemoro Lawang. Waktu itu kita juga masih bingung mau tidur dimana, boro-boro, mau ganti baju dimana aja masih bingung. Yaa, sekali lagi karena memang dengan rencana yang terkesan asal-asalan, ‘pancal-pancalan’.

Sambil bayar ongkos ojek motor, kita loby bapak-bapak yang punya motor untuk sekedar ngrepotin buat bersih-bersih dan ganti baju. Sedikit loby loby akhirnya bapak tersebut malah nawarin buat nyariin penginapan di rumah-rumah penduduk. Info aja lagi nih, tahun baru begitu hampir penginapan di Bromo penuh udah dibooking jauh-jauh hari, bahkan rumah penduduk pun hampir semuanya penuh terisi oleh wisatawan. Gak lama kemudian, bapak itu udah nyamperin kita lagi dan bilang kalau semua penginapan dan rumah penduduk udah benar-benar penuh. Akhirnya beliau nawarin lagi, buat ke rumahnya. Beliau bilang, ‘ya sekedarnya aja, yang penting bisa mandi dan bersih-bersih ya?’. Kami pun gak berpikir panjang untuk meng-iya-kan tawaran beliau. Syukur-syukur kita diijinin buat tinggal satu malam di rumah beliau, meskipun beralasakan tikar di ruang tamu, pikir kami waktu itu.

Mungkin inilah yang sering dibicarakan orang soal keramahan masyarakat Tengger. Setelah kami selesai mandi dan bersih-bersih, di rumah bapak yang belakangan kami ketahui namanya adalah Pak Suwarto, beliau benar-benar menawarkan untuk tinggal di rumah beliau. Ternyata kami udah disiapkan dua kamar dengan dua ranjang di salah satu kamarnya. Tidak hanya welcome dengan kedatangan kami yang notabene adalah ‘ngrepotin’, kami pun merasakan hangat dan ramahnya keluarga beliau, termasuk Bu Suwarto dan anak perempuannya yang masih kecil seumuran 9tahun, kalau tidak salah namanya Eva.

Beruntungnya kita, yang tidak harus tidur di mobil dalam dingin kabut dan hujan. Sangat beruntung, merasakan hangatnya masyarakat Tengger -khususnya keluarga Pak Suwarto- dan hangatnya perapian bara api dari arang yang pun udah disiapkan Bu Suwarto untuk kita. Dengan obrolan-obrolan yang tidak kalah hangat, menepiskan dinginnya udara Bromo malam itu. Tidak lama saat kita sudah cukup larut dalam hangatnya obrolan, ternyata Bu Suwarto udah menyiapkan makan malam untuk kita, yang menu nya menurutku melebihi menu di warung atau rumah makan sekalipun. Entah kata seperti apalagi untuk menggambarkan perasaan kita waktu itu dan hangatnya keluarga Pak Suwarto.

Dengan perasaan seneng dan bercampur gak enak, karena memang sepertinya kita udah terlalu ngrepotin, akhirnya kita sikat juga makan malam tersebut. Karena memang kita belom makan dari siang itu. Hampir semua sayur lauk pauk dan nasi habis, tanpa ampun. Setelah makan, kita sambung dengan rokok-an dan ngopi sambil melanjutkan obrolan yang tadi. Gak lama setelah itu baru kita pamit untuk istirahat, karena udah sangat capek sekali waktu itu. Gak lupa kita ngucapin terimakasih sama Pak Suwarto dan Ibu, sebelom kita berangkat tidur.

Memang malam itu adalah malam pergantian tahun baru, dan kami punya rencana untuk tidur hanya sebentar kemudian bangun untuk melewatkan pergantian tahun dengan kembang api dan segala macemnya di Bromo. Namun ternyata kondisi berkata lain, hehe.

Minggu, 1 Januari 2012
Hehe, kayaknya tidur baru satu jam, begitu aku buka mata ternyata malah udah keduluan sama matahari. Udah pagi coiiii, mana kembang apinya? Mana terompetnya?? Aaaaaaaaakkkkkkk!!!!! Haha, ternyata kita semua kompakan, gak ada yang bangun di pergantian tahun. Sampai bangun-bangun ternyata udah pagi. Ya maklum, setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam dan dengan persiapan yang minim, apalagi untuk kondisi badan. Mana dinginnya parah, lebih parah daripada hari sebelumnya waktu kita hujan-hujan. Mau bangun aja masih malas, yaahh udah jelas-jelas kesiangan juga.

Oke, setelah kita mengumpulkan nyawa dan semangat masing-masing akhirnya kita beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan lain-lainnya. Jeng jeng, ada surprise lagi pagi itu, ternyata setelah kita selesai mandi dan beres-beres untuk melanjutkan hari dengan perjalanan ke Jogja, Bu Suwarto udah menyiapkan sarapan untuk kita. Dengan menu yang tak kalah ‘amazing’, benar-benar istimewa. Sangat sangat beruntung. Yes, aku speechless. Info, rumah Pak Suwarto ini aslinya bukan penginapan, dan dia belom ada keinginan untuk menjadikannya penginapan.

Setelah semua terkondisikan, termasuk perut hehe, kita pamit dengan Bu Suwarto untuk naik lagi ke Cemoro Lawang, dan pengen turun ke kawasan Bromo lagi. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Pagi menjelang siang itu Pak Suwarto gak di rumah, katanya ngojek lagi di atas, karena memang kondisi tahun baru kawasan Bromo sangat ramai. Menjadi ladang rejeki bagi masyarakat sekitar. Saat pamit dengan Ibu, kita hanya bisa memberikan uang sekedarnya semoga bisa menggantikan apa yang udah kami repotin. Tapi tentunya itu gak bisa menggantikan semua, karena kami benar-benar merasa ngrepotin. Biar lah Tuhan yang membalas kebaikan keluarga Bapak dan Ibu ini, aamiin.

Akhirnya kita menuju ke Cemoro Lawang lagi. Karena jalan menuju Cemoro Lawang macet parah dan kondisi jalan yang menanjak, kampas kopling mobil sempat terbakar, yang membuat kita berhenti untuk sebentar. Seharusnya juga rencana kita hari itu kita mau langsung pulang, karena mengejar waktu, Mina yang udah pesan tiket pulang ke Jakarta di hari berikutnya. Katanya ada ujian, di jenjang pendidikan S2 nya di UI. Padahal sebenernya aku juga pengen sekalian ke Pulau Sempu, aji mumpung aja udah nyampai Bromo, yang itung-itungannya dekat dengan Pulau Sempu.

Menuju Cemoro Lawang
Macetnya Cemoro Lawang (Mina dan faiz)
Oke, singkatnya siang itu kita ke Padang Savana atau sering disebut sebagai Bukit Teletubbies dan ke Pasir Berbisik. Dari Cemoro Lawang kita jalan kaki sampai di lautan pasir, setelah di bawah kita baru tawar menawar dengan Bapak Ojek. Ya karena kita berusaha menghubungi Pak Suwarto gak bisa, mungkin karena terlalu sibuk ngurusin ramainya wisatawan. Deal harga, kita pakai dua ojek motor, satu motor dipakai bertiga. Memang agak ekstrim, terlebih melihat medan yang seperti itu.

Jadi kenapa di awal tadi aku sebut sebagai perjalanan besar buat faiz? Ceritanya di sini, saat kita di bukit teletubbies. Apakah? Ternyata Faiz pengen nembak Mina di sini, yang dari dulu katanya Mina pengen di tembak di Bromo atau di suatu tempat dimana aku lupa. Ya, ceritanya sebelom ini Faiz dan Mina belom jadian, tapi udah pacaran hehe. Yaa, begitulah, intinya kan aku cuman sebagai pemulus rencana Faiz tersebut. Ya tak apalah, semoga mereka masih ingat dan suatu saat nanti aku membutuhkan mereka, mereka siap. Hehehehe, gantian donk. Rrrrrr....

Padang Savana (Bukit Teletubbies)

Padang Savana (bukit Teletubbies)
Cerita tentang Faiz dan Mina cukup seperti itu aja deh ya? Ya gimana donk, aaaaa ya sudah lah....
Intinya, setelah dari bukit teletubbies kita ke pasir berbisik, ya karena searah perjalanan menuju parkiran di Cemoro Lawang. Agak sedikit terburu-buru tapi masih ingin menikmati suasana yang mungkin setiap orang idam-idamkan. Pemandangan alam pegunungan dan sejuk udaranya ditambah dengan hangatnya masyarakat -tengger- sekitar. Info lagi, di kawasan Bromo Tengger Semeru sebenernya banyak sekali spot yang bisa dinikmati, misal Penanjakan 1 dan 2, Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Air Terjun Madakaripura dan lain-lain, masih banyak lagi.

Pasir Berbisik
Waktu udah cukup siang, kurang lebih waktu itu jam satu kita memutuskan untuk pulang ke Jogja. Belum sempat kami pamit sama Pak Suwarto, lewat telepon pun belom, hanya sekedar bertitip salam melalui Bu Suwarto. Namun dalam perjalan pulang, belom jauh dari Cemoro Lawang kami berpapasan dengan beliau. Akhirnya kami diijinkan untuk berpamitan dan beterimakasih yang setulus-tulusnya kepada beliau. Semoga dijadikanlah kami sebagai saudara, itu mungkin harapanku saat itu, hingga kini. Untung tidak ada air mata di saat itu, hehe. Semoga silaturahim tetap terjaga hingga kelak, diberikanlah kesehatan dan rejeki yang melimpah kepada beliau dan keluarga.

Dengan hati tenang, aku memacu mobil menuju Jogja. Tapi sempat terhambat sampai sebelom kami tiba di sukapura. Jalan dari Bromo sampai ke Sukapura macet parah, bahkan macet total. Sampai-sampai kita harus berhenti tanpa bergerak hingga kurang lebih 2-3 jam. Dalam keadaan perut lapar kitapun bisa sambil pesan bakso, yang kita titip beli sama anak masyarakat setempat yang kebetulan nawarin jamur, tentunya kita beri imbalan sepantasnya hehe. Setelah macet sedikit demi sedikit terurai, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Oiya, kita sempat mampir di Malang di tempat saudaranya Faiz dan sedikit wisata kuliner di Malang. Sekitar jam sepuluh malam baru kita melanjutkan perjalanan dari Malang ke Jogja.

Senin, 2 Januari 2012
Sunrise yang indah di Cemoro Sewu, Magetan (Gunung Lawu). Kurang lebih jam enam pagi kita sampai di Cemoro Sewu, karena aku udah ngrasa ngantuk banget setelah semaleman bawa mobil akhirnya Faiz gantiin aku. Faiz yang memacu mobil sampai di Jogja, kurang lebih jam sembilan. Dan beruntung Mina belom ketinggalan kereta.
Kurang lebih seperti itulah aku bisa menuliskan tentang perjalanan ku pada tahun baru 2012 di Bromo. Penuh dengan improvisasi. Bagi Faiz, penuh dengan pemanfaatan hehe.

Lalu dibagian mana yang dimaksud mengenai mimpi, alam, petualangan, materi, cinta kasih dan permainan? Mungkin tidak semuanya terjabarkan dalam tulisan ini. Selebihnya cukuplah aku yang merasakan, dan hanya bisa menuliskan demikian. Silahkan ditafsirkan masing-masing, dan ambillah sekiranya yang bisa diambil. Mungkin lain waktu dengan feeling yang berbeda akan ada sedikit revisi, hehe.

Semoga masih akan ada lagi perjalanan-perjalanan selanjutnya. Menghabiskan dan mensyukuri Indonesia. Mendapatkan saudara-saudara baru, dengan sahabat-sahabat sejati. Semoga setiap perjalanan akan menjadikan dewasa kepada setiap langkah menuju perjalanan-perjalanan yang kemudian. Selamat untuk Faiz dan Mina, semoga senantiasa bisa saling mengerti dan memahami, juga saling memberi. Segera menuju palaminan, agar gak sia-sia segala ‘pengorbananku’ hehe.

Semesta Keren! Salam Rimba! Salam Lestari!

Rute yang kami lewati,
Jogja - Bromo : Jogja – Klaten – Solo – Karanganyar – Magetan – Madiun – Nganjuk – Jombang – Mojokerto – Gempol – Purwodadi – Malang – Tumpang – Lumbang 1 – Sukapura – Bromo  
Sebenernya bisa ditempuh lebih dekat dan lebih enak melalui rute,
Jogja - Bromo: Jogja – Klaten – Solo – Karanganyar – Magetan – Madiun – Gemarang – Jombang – Pasuruan – Sukapura – Bromo
Bisa ditempuh dengan waktu 10-12jam.


Sleman, dimulai  29 Maret 2012 – selesai 10 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar