Untuk perempuan yang sama.
Hai.
Bagaimana kabar mu? Aku berharap kamu selalu dalam keadaan baik dan seperti biasanya kamu, penuh dengan semangat. Masih ingatkah kamu saat dimana kita berdua menghabiskan siang dan malam dengan obrolan-obrolan? Hingga hujan pun akan terasa hangat. Membunuh waktu. Saat kamu masih bersedia sedikit meluangkan waktu, dan membuang gengsi beserta keturunan-keturunannya. Iya, membunuh waktu dan masa lalu.
Sepertinya, sudah lama sekali itu. Bagiku, hari-hari seperti itu sangat patut untuk dirindukan. Mungkin bagimu hanya sekedar hal-hal lebay, hehe. Mungkin dengan surat ini akan menjadi salah satu cara ku untuk sedikit melepas rindu, menghadirkan mu di kepala ku. Tentunya kamu tau, aku sedikit pandai soal 'membuat pelangi'. Namun entahlah, aku hanya ingin kembali menatap mata mu, hingga aku gak lagi harus membuat, namun melihat pelangi. Aku hanya ingin kembali ke masa-masa itu, meski nanti nya dengan tanpa sengaja, akhirnya kita bertemu, kemudian biar rindu ku beradu dengan kita yang pasti (akan) menjadi gagu.
Oiya, kamu sudah baca surat ku yang pertama? Semoga aja kamu udah baca. Karena mungkin saat ini aku memang hanya mampu seperti ini. Iya sih, banyak yang bilang aku cemen, gak ada aksi. Aku juga gak tau kenapa, tapi jangan sekali-kali kamu ragukan semua ini. Dalam diam ku, aku berusaha memperbaiki semuanya. Aku berusaha menyiapkan segalanya, hingga aku pantas meminang mu pada waktunya nanti.
Terlepas dari semua itu, memang aku begitu berharap kamu berada di sisiku
saat ini dan sampai nanti, untuk melewati proses kita bersama-sama. Saling menemani dan saling menguatkan, sampai ketika kita pantas untuk masing-masing kita. Kalau kamu ingat, aku pernah cerita ke kamu beberapa tahun lalu, di mirota kafe. Iya, waktu itu pun kita membunuh waktu. Tentang bagaimana aku, karena sebenarnya aku menginginkan perempuan yang siap mendampingi ku dari saat ini, dari nol. Hingga nanti kita mencapai mimpi-mimpi kita bersama-sama, jatuh bangun bersama-sama. Bukan perempuan yang menunggu ketika aku tiba di atas, walaupun realitasnya memang hampir semua perempuan mempunyai mimpi yang seperti itu.
Aku pengin ketika nanti aku lupa, ada orang yang menceritakan waktu-waktu yang pernah aku isi dengan perjuangan-perjuangan. Ada yang menceritakan, bagaimana aku berdiri ketika aku jatuh. Aku berharap itu kamu-yang menceritakan-ketika anak-anak kita bertanya atau hanya sekedar butuh motivasi untuk menghadapi sekelumit tantangan dalam hidup nya kelak..
Kembali hanya sekedar harapan.
Aku pun pria yang sedang dalam masa berusaha untuk menjadi realistis.
Kamu pantas mengambil sikap dalam hidup mu. Aku yakin kamu sudah merencanakan sesuatu yang indah. Aku pun mempunyai rencana indah, yang di dalam nya ada kamu. Meskipun rencana manusia akan sekedar menjadi rencana, karena tentu semua akan kembali lagi kepada-Nya. Namun bukan kah semua juga diawali dari kita? Dimulai dari niat, kemauan, keputusan dan sikap-sikap kita. Semoga kamu juga berpikir demikian.
Terimakasih untuk usahamu mengerti aku melalui celotehan-celotehan ini. Mungkin sekian untuk kali ini, aku merindukan mu, merindukan pengertian-pengertian mu dan segala tentang mu.
Sleman, 11 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar