Sabtu, 16 Februari 2013

Cerita Tentang Gunung Dan Laut

Aku pernah berjalan di sebuah bukit
Tak ada air
Tak ada rumput
Tanah terlalu kering untuk ditapaki
Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku

Aku pernah berjalan diatas laut
Tak ada tanah
Tak ada batu
Air selalu merayu
Menggodaku masuk ke dalam pelukannya

Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya

Lirik Lagu: Payung Teduh - Cerita Tentang Gunung Dan Laut

Kamis, 14 Februari 2013

Untuk Aku Di Angka 23

Pernahkah di dalam hidupmu kamu habiskan untuk menghitung detik-detik waktu, yang ternyata memang tidak ada artinya. Bukan hidupnya, namun aktifitasnya yang ternyata hanya akan membuatmu menjadi nampak bodoh dan benar-benar akan menjadi tiada arti. 

Pernahkah sebaliknya kamu menikmati setiap detik yang waktu berikan untuk mu. Untuk merasakan setiap tekanan-tekanan kehidupan yang akhirnya nanti akan menjadi kenangan. Tentunya indah atau tidaknya mutlak berada di tangan mu.

Pernahkah hari-hari dalam hidup mu kamu habiskan untuk mengkwatirkan masa depan? Yang semestinya terjadi pada yang akan datang, hingga menjadikan hati tak karuan. Kemudian kamu memutuskan untuk memulai sebuah perjuangan. Ataukah hanya akan kamu pikirkan untuk kemudian?

Pernahkah hari-harimu yang selama ini kamu lewati dengan bahagia yang ternyata perlahan tercabik-cabik oleh masa lalu yang seharusnya menjadi cerita yang sekedarnya? Atau mungkin kamu pernah berharap kepada kehadiran seseorang yang akan membawa cerita masa depan dan menghapus kenangan yang memang seharusnya 'terlupakan'. Atau semestinya kamu harus tersenyum menatap langit yang entah kemudian membawa mendung, yang kamu tahu dia akan membawa serta hujan yang menyejukkan. Memulai perjuangan, tanpa kekwatiran.

Bertahan untuk bertahun-tahun tidak membuatmu menjadi Tuhan. Kamu mungkin telah melewatkan tahun-tahun yang porak poranda, seperti kata WS Rendra. Namun bukan hanya kamu yang hidup di dalam masa dan kemudian merasa yang sama. Karena memang hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh. Bukan juga untuk merasa paling kuat, dan gagah.

Ini adalah hari dimana monolog akan klimaks, menjadi maksimal mencapai puncaknya di dalam setiap tahunnya. Terkecuali saja untuk kondisi-kondisi tertentu. Mungkin hanya akan menjadi refleksi diri-yang tak berarti-tanpa aksi.

Ini adalah hari sebuah angka menjadi 23. Angka yang-seharusnya-sudah cukup jauh dari angka 'Nol'. 

Tentunya rasa syukur tidak henti-hentinya terucap oleh mulut atau entah batin mu. Untuk apa? Untuk tahun-tahun yang porak poranda? Ya, namun terlebih untuk kesempatan yang berulang kali diberikan. Tidakkah kamu berpikir, inilah kesempatan dan peluang mu? Untuk kembali memegang dunia dan menggapai akhirat. Bukankah kamu sudah semakin tangguh? Hanya kemudian tinggal beraksi dan semakin tangguh.

Yang aku tahu, kamu pasti tidak ingin melewatkan malam ini hanya dengan tertidur seperti biasa, seperti biasanya kebanyakan orang. Aku pun tahu, kamu bukan ingin untuk berlebihan. Ataukah ada yang kamu tunggu, selain karena memang malam ini menjadi malam refleksi mu? Benar saja kamu tidak tahu, apalagi aku. Namun memang sangat nampak seperti itu, ada yang kamu tunggu. Nampak seperti sebuah harapan. :)

Lalu, bukankah memang ini malam dimana titik tolak mu untuk semua harapan? Dimana semua harapan akan tercurahkan, tentu saja melalui sebuah intropeksi diri yang membuatmu gelagepan. Adakah harapan khusus untuk malam ini? Untuk mengawali semua harapan-harapan tersebut. Sepertinya tebakanku memang benar. 

Seseorang yang kamu harapkan-di malam ini-entah untuk apa. Hingga ternyata aku pun mengetahui ternyata semua harapan mu tadi tidak lain adalah berkaitan dengannya. Semoga analisaku tidak salah. Karena memang aura wajah mu memancarkan sebuah rindu yang kuat terhadap seseorang, harapan dan masa depan, yang gemilang.

Selamat ulang tahun, selamat menjadi angka 23. Selamat 'memporak porandakan' masa depan. Dengan segala harapan, yang akan menjadi kekuatan. Sikat saja masa depan. Selamat menjadi lebih baik, selamat memantaskan diri untuk seseorang yang pantas. Ku kira adalah yang malam ini kamu nantikan.

Tentunya kamu sudah lebih memahami tentang refleksi diri dan berdamai dengan diri sendiri. Semoga kado-surat-ku ini berarti bagimu. Jangan buang-buang waktu lagi. Selamat untuk angka 23.


Sleman, 13 Februari 2013


Ttd, Aku

Rabu, 13 Februari 2013

Dulu Mereka Bilang Kita Saudara

Untuk sahabat-sahabat ku tercinta
Darah kita pernah jatuh di lumpur yang sama.

Halo, saudara ku semua.
Teman-teman ku yang aku cintai dan kasihi. Beberapa tahun pernah kita lewati bersama. Pernah berada dalam bangku sekolah yang sama. Saat-saat kita merasa benar-benar muda, merasa paling gagah dan paling ganteng. Arogan! Oh, apa itu cuman aku dan perasaan ku aja? Hehe, yang pasti kita pernah merasakan masa-masa yang jarang bahkan gak bisa dilupakan, bersama-sama.

Hai Arep! Halo Wawog! Woii Yosua! Apa saja yang kalian ingat tentang masa-masa itu? Walaupun kita pernah berbeda dalam masa-masa tersebut, entah kenapa aku merasa dekat dengan kalian. Aku masih ingat, ketika dulu Arep di SMP masih cupu. Masih kecil belom setinggi sekarang, masih gak tau apa-apa dan bloon parah. Kita emang gak begitu deket sih waktu SMP. Tapi, kamu masih inget gak ketika kelas 1 SMA,  kita bareng temen-temen ada acara tahun baruan. Iya, cuman ke alun-alun kota jogja sih. Jaman-jaman kita kan emang masih seneng dateng ke konser-konser begituan. Nah, begimane ceritanye di situ kamu bisa ilang? Padahal iya kita bareng-bareng rame-rame. Betul sekali, saat itu Arep ilang ketika perjalanan kita mau pulang, mana gak bawa hape. Ilang dalam gerombolan besar pawai motor, iya! Ya benar saja, waktu itu kamu masih bloon juga, cupu nya gak ketulungan. Sampai-sampai aku harus balik lagi, buat nyariin kamu, yang ternyata udah sampai rumah. Untung-untung masih ada inisiatif buat ngasih kabar via hape ibuknya, agak pinter kali ini. Namun sejak saat itu kamu tahu, betapa deketnya kita. Bak sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan. Namun tenang aja, aku masih berpegang teguh dengan orientasiku yang lurus, bahkan dengan type perempuan ku.

Ini cuman salah satu dan mungkin awal mula kisah dan kenangan kita, Rep. Masih banyak kenangan-kenangan yang bahkan sampai sekarang masih bikin ngakak gak ketulungan, ada juga yang bikin naik darah tapi jatohnya tetep aja kalau keinget bikin ketawa, kenangan-kenangan yang kadang bikin kangen. Tragedi Gunungan Tlepong? Tragedi Toilet SMA? Banyaaaaakk, aaaaaaakkkk....

Dan perlu diinget aja nih temen-temen, kemesraan dari kata-kata ku di sini sekali lagi bukan karena pembelokkan orientasi, tapi terlebih karena aku menganggap kalian memang sebagai saudara ku, keluarga ku sendiri. Sahabat-sahabat ku..

Wog, iseh urep wog? Hehe, pie Wog, apa kabar? Masih sama, bisa tidur dimana aja? sama aja sih ya sebenernya sama Arep. Wog, kamu ini pernah mau menghancurkan Motor 'Tiger' Ganteng ku. Jadi ceritanya, waktu itu kalau gak salah kelas 2 SMA, bareng temen-temen juga kita ada jalan-jalan ke Keteb dan Kopeng, pawai motor coii, darah muda yang memang masih sangat arogan, melebihi aparat. Di perjalanan pulang kamu kan yang bawa motor ku? Aku bonceng kamu. Bener, waktu itu kondisi hujan, dan kita sok2an blusukan cari jalan pintas. Yang ternyata kondisi jalannya parah, banyak lubang dan polisi tidur. Kondisi motor ku saat itu, ceper mencium bumi dengan shock depan mati yang belakang pun hampir mati, yang artinya berarti shock nya gak berfungsi. Roda depan dengan ring 17 ban ukuran 200, miris kalau keinget. Waktu kita lewat jalan-yang katanya pintas- itu, saking gemes nya karena harus nglewatin banyak polisi tidur, akhirnya aku bilang ke kamu, ' Wog jumping-ke wog! Jumping-ke wae rapopo.' Akhirnya kamu beneran angkatin tuh roda depan motor, bener sih roda depan ke angkat, tapi kenapa motor tetap di tempat????? Yang akhirnya blog mesin motor ku menghajar polisi tidur. Astagaa, kalau keinget bikin gregeten aja. Mana aku sayang banget sama tuh motor. Masih inget wog?

Hehe. Tapi wog, kok kayaknya kalau sama kamu banyakan kenangan pahitnya ya? Haha, tapi selalu yang namanya kenangan, meskipun pahit suatu ketika pasti akan bisa bikin ketawa juga. Terlebih bisa jadi pelajaran. Piknik dieng wog? Ini termasuk pahit gak ini? Hahahaha.

Untuk Yosua, kita deket nya emang malah-sejak-waktu di SMP, kan? Yos, dulu liat kamu pertama kali waktu pertama masuk sekolah di SMP jujur sebenernya aku agak takut. Gimana gak, secara tampang mu waktu itu mirip-mirip tentara-tentara jepang dalam film-film horor. Dengan mata sipit khas orang jepang dan alis tebal cenderung nyambung. Apalagi ditambah topi osis mu waktu itu ada kainnya di belakang, aku menyebut nya klebet. Mirip banget dengan topi tentara jepang yang dulu menjajah Indonesia. Sekelas 3tahun kita Yos, walaupun emang kurang seimbang, karena aku yang sering nyontek kamu. Tapi gak papa kan? Hehehe.

Sampai-sampai pernah ketika ulangan Matematika kelas 3 aku kena pukul penggaris kayu tepat di pipi gara-gara-dikira-nyontek kamu, yang duduk di bangku belakang bangku yang aku tempati, padahal biasanya juga kita sebangku. Padahal juga nih waktu itu sebenernya aku juga cuman bercanda aja nengok-nengok, buat godain Bu Gurunya aja (namanya siapa aku lupa). Sambil ngliatin pekerjaanmu sih, tapi sebenernya cenderung buat ngejekin kamu aja kalau gak bisa ngerjain. Hehe, ini serius, bukan ngeles. Karena seharusnya aku jadi panutan, secara waktu itu aku Ketua Osis sekaligus Ketua Kelas tiga tahun berturut-turut kalau gak salah, akhirnya PLAAAAAAAAAAAAAKKK!!! merah di pipi. Sambil sombong aja nih, Ketua Osis merangkap Ketua Tonti dan Ketua Kelas, masih ingat betapa gantengnya aku waktu itu Yos? Haha.

Terus, ingat gak ketika lulusan SMP? Apa yang terjadi dengan kamu dan aku yang notabene adalah Ketua Osis yang seharusnya menjadikan citra sekolah menjadi baik, karena memang sekolah kita adalah sekolah favorit. Setelah nilai Ujian Nasional keluar dan kita tahu kalau kita lulus, bak anak SMA kita corat coret baju pakai spidol dan pilox, dan di depan sekolah. Mana ada anak SMP waktu itu dan di tempat itu senekat kita. Ditambah dengan motor ku yang diganti knalpotnya jadi knalpot racing, blombongan. Masih ingat juga waktu mbleyer-mbleyer di depan sekolah? Kita menganggap sekolah kita waktu itu adalah sampah dengan segala peraturan ke-penjara-an yang ada, padahal di mata orang waktu itu kita lah yang sampah. Aku pun sebenernya miris Yos, haha. Terus lagi, waktu kita pawai kelulusan boncengan dengan motor bersuara nyaring dengan arogannya aja kita sikat kanan sikat kiri, ngepot kanan ngepot kiri. Sampai akhirnya ada salah satu pengendara mobil yang gak terima, yang sampai sekarang identitasnya masih belom diketahui, memepet motor kita sambil menodongkan pistol. Spontan, kamu njawil-njawil punggung ku, karena waktu itu aku gak sadar kalau ditodong pistol. Eh, begitu aku sadar, si penodong pistol malah aku tantangin. Yaa, karena memang waktu itu benar-benar darah muda yang arogan dan selalu merasa gagah masih mengalir di dalam nadi. Ini lah sebenernya cerita intinya. Kalau sekarang harus ditodong pistol mending aku nunduk aja kok, ampun ampun. Inget gak Yos?

Dan temen-temen, ketika bertahun-tahun akhirnya kita bersama-sama dalam satu atap dan satu nama jalan. Kita bilang hari-hari itu adalah hari penebusan impian kita. Setiap hari tidak kurang mungkin 12jam, dalam setiap bulan dan tahunnya kita lewati bersama. Canda, tawa, amarah, sedih dan sendu dan sebagainya sempat kita lewati di setiap hari nya. Bahkan kita pernah menjadi motivasi untuk masing-masing kita. Iya, sampai sekarang pun kalian masih tetap menjadi motivasi ku. Hingga akhirnya setelah sekian tahun, kita menemukan dan memilih jalan kita masing-masing. Setelah banyak pengorbanan dan perjuangan kita lalui bersama. Satu keyakinanku, tahun-tahun itu tak akan menjadi sia-sia.

Begitulah satu dua kenangan-kenangan kita yang sampai sekarang gak bisa dilupakan, bahkan sampai nanti. Aku harap seperti itu. Gak bakal nyukup bro, berkarakter-karakter, berparagrap-paragrap, berlembar-lembar untuk nulisin semua tentang kita. Gak bakal cukup berhari-hari. Lain waktu saat ada kesempatan akan ku tulis lagi surat untuk kalian. Semoga selalu menjadi proses pendewasaan untuk kita.

Aku sadar tidak sedikit salah yang sengaja maupun gak sengaja aku buat kepada kalian. Maaf ku selalu untuk sikap-sikap ku tersebut, meski sering tak terucap. Aku harap kebahagiaan selalu bersama kalian. Aku merindukan kalian. Saat-saat yang selalu kita habis kan bersama, bercanda, berbincang hangat, membicarakan impian dan masa depan, curhat soal cinta dan keluarga dsb nya. Aku kangen kalian ketika jalan bersama, piknik dan trip-trip bersama. Semua tentang kalian, aku kangen. Kalian akan selalu menjadi sahabat-sahabatku, dengan kurang dan lebihnya. Semoga kita bisa membuktikan kepada semua orang bahwa kita adalah sahabat, selamanya. Kita adalah saudara. Semoga kita bisa berkumpul bersama lagi, dalam satu kesempatan yang indah. 

Salam Kangen dan Cinta ku untuk kalian; Arif, Wawan dan Yosua.


Wawan, Aku, Arif, Yosua (2008)



Sleman, 12 Februari 2013








Cinta: Ketika Harus Memilih


Satu ketika ketika pagi datang menyambut hari-hariku yang penuh dengan semangat, ceria, bahkan kecacatan mental yang selalu membuatku dan lingkunganku tak peduli dengan masalah yang ada. Ya pada satu pagi itu, entah apa yang terjadi, buyar semua. Segala rencana yang telah rapih ku buat seakan jadi ucapan semata.

Hei kamu, praktikanku, adik angkatanku, tetangga kostku, bertanggungjawablah atas yang terjadi padaku.

Diawal tahun aku memulai paragraf baru hidupku, membuat semangat baru dalam hidupku. Ya, kehadiranmu itu merubah semuanya, membuat kenyamanan baru, ketidaklogisan baru, kemanusiawian baru. Hei , aku sayang kamu !

Kamu, anak pintar dengan tumpukan nilai A pada transkripmu yang telah meng-iya-kan aku untuk jadi ‘teman’mu dalam hari-harimu. Apa yang kamu pikirkan? Sadarkan yang kamu perbuat? Hmmm kita berbeda, satu tembok memisahkan kita dan tdk bisa dihancurkan, perbedaan keyakinan.

Betapa bodohnya aku ketika lagi dan lagi terjebak dalam perbedaan yang nyaman, bukan untuk pertama kalinyaa, tapi ini untuk pertama kalinya batasan yang tidak terasa membatasi.

Betapa bodohnya juga kamu kenapa mau meladeniku yang telah jelas kamu tahu ada perbedaan ini? Nah sekarang pahitnya terasa kan? Hari ini semua jadi pahit, di otakku hanya ada kata saat ini, Henyu!

Sesuai apa yang ku katakan padamu, aku hanya menunggu waktu dan mentalku hingga siap mengakhiri semuanya...

Ketika saat itu tiba, aku memohon untukmu kepadaku agar bisa melewatinya...
Proses hidup, ini resikoku, itu resikomu. Ya, hadapi sendiri. Kelakuan kita, tanggungjawab kita.

| yang, aku sayang sama kamu | - iya, aku pun sama | terus apa yang kita perjuangin disini? | - aku gak tau | kamu mau serius sama aku? | - aku bingung | jangan bingung dan ragu untuk bilang tidak, yang | - aku mau serius, tapi aku tetap ingin dengan apa yang aku yakini | aku juga sama, tetap pada keyakinanku | - terus gimana | yasudah, aku pulang ya..maaf dan terimakasih, yang |

Satu saat indah akan datang padamu, padaku. Saat dimana semua terasa nyaman, tentram, menyejukkan. Dan pada saat itu, aku melihatmu dengan pasanganmu (RSH, 2013)

Oleh @sennaharahap

Senin, 11 Februari 2013

Masih Dengan Harapan Yang Sama

Untuk perempuan yang sama.

Hai.
Bagaimana kabar mu? Aku berharap kamu selalu dalam keadaan baik dan seperti biasanya kamu, penuh dengan semangat. Masih ingatkah kamu saat dimana kita berdua menghabiskan siang dan malam dengan obrolan-obrolan? Hingga hujan pun akan terasa hangat. Membunuh waktu. Saat kamu masih bersedia sedikit meluangkan waktu, dan membuang gengsi beserta keturunan-keturunannya. Iya, membunuh waktu dan masa lalu.

Sepertinya, sudah lama sekali itu. Bagiku, hari-hari seperti itu sangat patut untuk dirindukan. Mungkin bagimu hanya sekedar hal-hal lebay, hehe. Mungkin dengan surat ini akan menjadi salah satu cara ku untuk sedikit melepas rindu, menghadirkan mu di kepala ku. Tentunya kamu tau, aku sedikit pandai soal 'membuat pelangi'. Namun entahlah, aku hanya ingin kembali menatap mata mu, hingga aku gak lagi harus membuat, namun melihat pelangi. Aku hanya ingin kembali ke masa-masa itu, meski nanti nya dengan tanpa sengaja, akhirnya kita bertemu, kemudian biar rindu ku beradu dengan kita yang pasti (akan) menjadi gagu.

Oiya, kamu sudah baca surat ku yang pertama? Semoga aja kamu udah baca. Karena mungkin saat ini aku memang hanya mampu seperti ini. Iya sih, banyak yang bilang aku cemen, gak ada aksi. Aku juga gak tau kenapa, tapi jangan sekali-kali kamu ragukan semua ini. Dalam diam ku, aku berusaha memperbaiki semuanya. Aku berusaha menyiapkan segalanya, hingga aku pantas meminang mu pada waktunya nanti. 

Terlepas dari semua itu, memang aku begitu berharap kamu berada di sisiku saat ini dan sampai nanti, untuk melewati proses kita bersama-sama. Saling menemani dan saling menguatkan, sampai ketika kita pantas untuk masing-masing kita. Kalau kamu ingat, aku pernah cerita ke kamu beberapa tahun lalu, di mirota kafe. Iya, waktu itu pun kita membunuh waktu. Tentang bagaimana aku, karena sebenarnya aku menginginkan perempuan yang siap mendampingi ku dari saat ini, dari nol. Hingga nanti kita mencapai mimpi-mimpi kita bersama-sama, jatuh bangun bersama-sama. Bukan perempuan yang menunggu ketika aku tiba di atas, walaupun realitasnya memang hampir semua perempuan mempunyai mimpi yang seperti itu. 

Aku pengin ketika nanti aku lupa, ada orang yang menceritakan waktu-waktu yang pernah aku isi dengan perjuangan-perjuangan. Ada yang menceritakan, bagaimana aku berdiri ketika aku jatuh. Aku berharap itu kamu-yang menceritakan-ketika anak-anak kita bertanya atau hanya sekedar butuh motivasi untuk menghadapi sekelumit tantangan dalam hidup nya kelak..

Kembali hanya sekedar harapan.
Aku pun pria yang sedang dalam masa berusaha untuk menjadi realistis.

Kamu pantas mengambil sikap dalam hidup mu. Aku yakin kamu sudah merencanakan sesuatu yang indah. Aku pun mempunyai rencana indah, yang di dalam nya ada kamu. Meskipun rencana manusia akan sekedar menjadi rencana, karena tentu semua akan kembali lagi kepada-Nya. Namun bukan kah semua juga diawali dari kita? Dimulai dari niat, kemauan, keputusan dan sikap-sikap kita. Semoga kamu juga berpikir demikian.

Terimakasih untuk usahamu mengerti aku melalui celotehan-celotehan ini. Mungkin sekian untuk kali ini, aku merindukan mu, merindukan pengertian-pengertian mu dan segala tentang mu.


Sleman, 11 Februari 2013


Sabtu, 09 Februari 2013

Cintaku Sederhana

Teruntuk Mbak Mita, mbak nya Dedek (LIO).

Seratus hari yang telah membuat ku menciptakan celotehan dan racauan-racauan yang tak karuan.

Hai kamu,
Yang seketika mengalihkan duniaku. Yang menjungkir balikkan duniaku, hingga aku gak tau harus berbuat apa selain meracau. Betapa menyesalnya aku, ketika terlambat menyadari kehadiran-kehadiranmu selama ini. Bertahun-tahun, cinta memang telah membuatku menjadi dingin, hingga aku gak berpikir dengan cinta-cinta dan kehadiran yang lain. Awalnya aku gak berpikir akan seperti ini, menjadi jatuh hati.

Aku juga gak ngerti kenapa baru sekarang pengin meracau soal ini. Aku ingat, beberapa bulan yang lalu. Berawal dari ajakan ku untuk trip ke luar kota, sebuah pulau. Waktu itu pun aku masih menganggap keikut sertaanmu adalah bonus, toh selain kamu udah banyak temen-temen yang akan berangkat. Hatiku masih beku.

Bermil-mil,
mungkin saat-saat ini lah waktu yang mengetuk hati. Saat aku dan kamu duduk bersama, dan bersebelahan (hehe) di dalam mobil, saat menyiapkan makan bersama buat temen-temen di waktu kemping, saat ngobrol santai tapi sering kita selipkan hal-hal serius di tepi pantai. Seluruh waktu benar-benar kita habiskan bersama, apa adanya. Meski hanya beberapa hari. Aku kira mungkin inilah yang disebut melewatkan kemungkinan-kemungkinan dalam hidup kita, bersama. Sehingga hati yang akan berbicara. Aku jatuh cinta.

Setelah sekian tahun, akhirnya aku jatuh cinta. Iya, emang agak lebay. Pasti kamu juga bakal ngomong kayak gitu kan? Hehe. Ya emang seperti itu lah ada nya. Cinta kayaknya emang selalu identik dengan lebay. Hehe lagi.

Oiya aku ingat. Bukannya kemping gak akan lengkap tanpa api unggun? Iya, waktu itu juga ada api unggun. Api yang aku dan temen-temen buat dengan susah payah, memutar otak dan memeras keringat. Dan kamu akan bilang lebay lagi kan? Iya lebay, hehe. Saat aku menyerah membuat api, dengan sisa-sisa bara api yang jadi hasil perjuanganku yang kemudian diteruskan sama temen-temen. Saat itu aku inget banget, obrolan-obrolan ringan nan hangat di samping api unggun. Lhoh, ingatnya soal apa? Daritadi cuman ngomongin soal obrolan-obrolan terus. Aku ingat saat kamu membaringkan tubuh mu dengan bantal paha ku. Hehe, mungkin kamu gak ingat belaian-belaian spontan ku ke kepalamu. Karena emang waktu nya udah malem banget dan kamu juga udah kriyip-kriyip, dengan sambil dielus-elus keningnya gak tau sejak kapan akhirnya kamu ketiduran. 

Buat paragrap baru dulu ya.
Iya, kamu ketiduran di kaki ku yang kesemutan. Hehe, sebenernya udah ditahan agak lama juga tuh. Sampai akhirnya gak tahan juga, akhirnya spontan aku gerakkan kaki. Yang tanpa sadar juga udah bangunin kamu, yang tadinya tidur dengan posisi miring agak tengkurep. Aku pengin ketawa dulu nih, hehehe. Saat kamu bangun, gak tau kenapa tanpa peringatan dan penjelasan tiba-tiba aja kamu usap-usapin mulut kamu di celana ku. Untung celananya tebel, haha. Ya aku gak ngasih reaksi apa-apa sih waktu itu.

Esoknya,
dalam perjalanan pulang, di mobil aku baru tanya sama kamu, 'kemarin kamu ngilerin aku ya?' Aku agak lupa kamu jawab apa, tapi yang pasti kamu ketawa sambil mengiyakan. Kalau aku gak salah inget sih ceritanya emang seperti itu. Pokoknya pada intinya kamu ilerin aku. Terus kesimpulannya apaan? Kesimpulannya ya kamu ngilerin aku.

Saat-saat seperti itulah yang mungkin menghadirkan cinta. Iya, aku jatuh cinta! Secepat itu? Emang kenapa? Kalau kamu pengin tanya, kenapa aku cinta kamu? Jawabannya simpel, karena kamu yang udah ilerin aku. Haha, iya aku cinta kamu. Kamu yang ilerin aku. Sederhana kan? Seperti itulah mungkin cinta, yang seharusnya tanpa kenapa.

Dimulai dari iler tadi, aku mulai bermimpi tentang kamu sepanjang waktu. Hingga aku menulis ini, dan hingga sesampainya ini pada kamu. Hingga waktu-waktu yang bahkan kamu gak akan tahu.

Cukup sudah rasa menyesalku, yang mungkin telah melewatkan beberapa cinta. Aku gak pengin menyesal lagi, meski kamu tahu aku udah bilang beberapa kali, aku cinta kamu. Sekali lagi dan gak akan bosan-bosannya, aku yakin kan kamu, aku mencintai mu, tercinta. Maafin aku untuk hari-hari sebelum ini dan waktu-waktu sebelum kamu ilerin aku. 

Benar aja, sejak saat itu aku mulai meracau dan berceloteh gak karuan. Lihat aja pada bulan Desember-Januari, hehe. Racauan di sini bukan karena aku kebanyakan minum atau ngigo. Tapi iya karena aku mabuk, mabuk karena iler. Mabuk Cinta.

Sekali lagi, maafin aku. Maaf untuk segala gak ke-peka-an ku. Maaf untuk ke-cuek-an ku. Maaf untuk hari-hari yang dulu. Setelah ini, aku tahu kamu tetap masih ragu. Karena emang apa yang kamu bisa banggakan dari aku? Benar? Aku tahu kamu perempuan istimewa, sedikit aja kamu pakai hati, segalanya akan terbuka. 

Karena memang kesempatan yang aku butuhkan. Kemudian kita sikat masa depan. Melewati banyak kemungkinan dalam hidup ini, hingga kamu menemukan satu keyakinan terhadap keputusan untuk kesempatan tersebut.

Meskipun nanti aku jatuh, aku pengin berterimakasih sama kamu. Kamu udah kembali menggores, mencorat-coret hati dan hari-hariku yang tadinya abu-abu. Terimakasih telah kembali mengajarkanku tentang cinta, otomatis satu paket dengan rindu dan mungkin luka. Terimakasih atas warna-warni ini. Terimakasih..

Aku cinta kamu..

Terimakasih juga untuk sahabat-sahabat, dan temen-temen seperjalanan..


Sleman, 8 Februari 2013