Kamis, 20 Desember 2012

Dinamika Hati (Legowo)

bukannya aku gak mau menunggu
bukan karena tidak ada konsistensi,
dari ucapan dan perasaan2 ku

aku merasa (sangat) baik
saat bersama mu.
merasa semuanya tercapai dalam satu waktu

namun,
sepertinya kamu (tetap) lebih baik tanpa aku

aku lebih menyukai kesendirian
lalu, aku merasakan baik nya bersama mu

aku menyerahkan seluruh bahagia ku untuk mu
kemudian, adalah aku mencari bahagia ku sendiri

abadilah hujan,
seperti pertemuan yang mengobati kerinduan

kalah kan dulu yang ada di kepala mu
kemudian, kalahkan dunia
yaa, kita!

benar,
pasangan yang gagal membangun komunikasi
tidak akan membangun apapun di kemudian hari

kehilangan kamu,
saat bersatu saja tidak

sedikit terlambat;
hanya terima saja konsekuensinya
dan kita bersatu

sebut saja dinamika hati

sempat aku menangis karena tertawa
mutlak, aku mencintaimu

ternyata, suara pun bisa membunuh
aku siap untuk hari pembunuhan itu,
ketika kamu membisikkan, dg lirih 'aku cinta kamu'

aku ingin kau di sini
menyapa sepi, membakar pagi,
dan mewarnai Jingga

kemudian bangkit
membangun kertas-kertas lusuh yang lalu
yang meng-abu

kita adalah masa depan
melihat kertas-kertas penuh warna,
Jingga

akan tiba saatnya
saat aku dan kamu menyandang tugas
memainkan krayon2 kehidupan,
saling mewarnai setiap putih-nya

kamu tidak lah sendiri

sudut hati,
tergolek impian
dari dan tertuju hanya teruntuk mu

tercinta..



<monumental 20.12.2012>

untitled



kemudian, sepi


pagi dan Jingga
tidak hanya kepada mata

membakar pagi,
mengebiri sepi

berdarah-darah,
telah selesai monolog malam ini

ada Jingga di kala ini dan senja nanti,
sempurna ketika ada kamu

jangan berlebih-lebihan untuk sepi
tatap matahari, beserta Jingga-nya

Jingga,
terbujur di dalam hati kini hanya diri nya

pagi ini kita saling mengantar
kepada kerinduan kita masing-masing

tidak ada semangat lebih besar
selain kepada mencari titik kerinduan akan dipertemukan

cinta,
jangan jatuh

dan kemudian,
kita saling menatap,
mata kita saling mengucap 'aku cinta kamu'

kita adalah sinergy
yang hanya bisa disatukan oleh hati

hati ku adalah kunci
sedangkan hati mu adalah peti

mungkin kau salah menilaiku
aku akan berjalan ke ujung dunia,
dan kembali jika kau menginginkannya
tentunya, dengan hati
bukan mata, yang buta



<monumental 20.12.2012>

Bukan Puisi



aku gak bisa bilang ini puisi
hanya, yang pasti dari hati

aku pastikan ini cinta
coba lihat, penuh dengan luka

aku bilang ini kata hati

'buka saja dada ku'
kemudian, kamu menjerit
terlihat utuh sebuah hati tersayat-sayat

aku adalah petualang,
dalam perjalanan pulang

adalah seorang prajurit
yang selalu menyembunyikan perasaannya
aku pria, dengan hati.
kamu sayang?

aku menatapmu
ya, bukankah mataku berbicara tentang kebenaran?
tidakkah kau beranjak dari penilaian2mu?

ketika aku tak bisa berharap apapun
ketika tafsir mulai dipermainkan
satu yang bisa aku lakukan, aku men-cintai mu
dengan hati, dan segala tentang mu
hingga abu abadi membunuh Jingga



<monumental 20.12.2012>

Cinta, Luka?



justru karena sering tersakiti
coba bayangin betapa aku mencintai

seakan gak perduli,
seperti apalagi bentuk hati ini

akan seperti apalagi bentuk hati ini..

bagaimana mungkin lagi kamu bisa menghindari luka?
ketika hati yang harus berbicara

suatu ketika
aku bisa 'menggoreskan' segalanya
tapi aku tdk bisa membuat mu jatuh cinta

cinta sejati adalah dia yang bertahan
meski dengan luka dan jeritan
terasa semuanya sulit,
pada akhirnya tak akan terlupakan

aku masih tidak percaya,
kepada hujan yang men-cintai Jingga

aku ada,
buka (mata) hati mu
buka sedikit lebih drpd biasanya

tidakkah kau sadar
sejatinya, aku tak pernah yakin kau akan 'siap'

menunggu mu kembali
kamu yang tak pernah di sini

coba sekarang mulai untuk sadari keberadaanku
mungkin, perlahan aku akan menggenggam hati mu

sudah ku buat hati dan diri ku mutlak untuk mu

karena aku cinta kamu,
tercinta

segalanya kemudian berbeda semenjak ada kamu
kuterima beserta luka-nya

tercinta



<monumental 20.12.2012>

Kamis, 13 Desember 2012

Rinai Mutiara

Jangan kau bawa aku ke masa lalu,
Aku sudah tak tinggal di sana

Sedangkan saat kita masih bingung tentang definisi dari cinta,
Beberapa mereka telah mengumbar kata2 cinta


Hanya, cukup kau beri satu alasan saja
Kenapa aku harus selalu memupuk rasa ini

Setiap orang ber hak untuk kesempatan ke duanya
Ini kesempatan ke-dua-ku(?)

Kangen itu ibarat awan di langit
Kamu harus menikmati setiap moment nya,
Karena tidak akan berlangsung lama

Saat ini, meski bagaimanapun aku tetap mencintaimu
Dan tak akan mudah untuk tidak
Tak perlu banyak bantuan
Ya, aku mencintaimu

‘Banguunn!! Banguuuunn..aku butuh kamu.’ Hati berkata, kepada logika
'Aku tidak tidur, aku ada, mungkin kamu saja yang selama ini gak nganggap aku.' Sahut logika

Apapun yang membuatmu bahagia

Aku punya sesuatu yang mungkin kamu tak akan punya

Masa-masa rentan (hati) sesorang adalah ketika ia mabuk cinta
Masa-masa rentan jiwa seseorang adalah ketika ia patah hati

Ketika hujan, goresan sebuah wajah
terlukis di langit hati yang tak karuan

'Kerinduanku teruntukmu tidak melulu ketika hujan.
Tapi, hitung rinai nya.
Itu hari yang ku lalui tanpa sedetik pun lupa perihal rindu pada mu’

Hitung rinai nya,
Ya, coba hitung rinainya. Itu hari yang ku lalui tanpa sedetik pun dengan cinta

'Aku mencintaimu
Hingga hujan terakhir meneteskan rinainya di atas bumi'

Aku mencintaimu
Hingga mendung terakhir menggulung Langit Jingga

Hujan kembali meneteskan
Rinai-rinai impian yang sempat termakan
Ujian kehidupan.





.kiamat.
.bertabur bintang, 12.12.2012


Senin, 03 Desember 2012

Jingga dan Mereka

Apakah Hujan merindukan-ku?

Benar.

Padahal kau merindukanku, meski dg malu-malu..


Jingga, yg kau bawa besertamu.
Ternyata kalian sahabat karib, sama2 malu-malu..

Kau ini cemen ya? Pelangi pun kau bawa besertamu..

Meskipun begitu, kalian tdk akan pernah tau seberapa aku memujamu.
Seperti hal nya Mahameru.

Haii, Jingga
Pelangi itu pacar mu ya? Lalu siapa Hujan itu? :))

Lalu siapa aku?

Lebih baik bersama tp tdk bs bersatu, atau bersatu tp tdk bs bersama?
Bersama dan men-satu-kan’, Jingga memilih

Tidak selalu butuh berteriak untuk mengutarakan
Karena dg diam akan di dengar, terkadang

Jingga, jika kau datang lagi hari ini,
sudi kira nya kau beri sedikit obrolan tentang kekasih-kekasih mu kini..

Agar datang keterbukaan kemudian enyah kecemburuan diantara aku dan dia,
juga beberapa mereka..

Biasanya bukan hanya karena benturan suara hati,
pasti ada yg lebih..

Hati2 terhadap kehilangan persepsi kepada sesuatu.

Keyakinan-ku dari setiap kalian yg menyebut nama nya

Maaf, aku kehilangan diriku
Sesaat

Saat aku sibuk mendengar suara-suara gaduh di sekeliling,
dan lupa mendengar suara ku sendiri

Biarkan cinta menemukan jalannya sendiri
Dengan meraba, bahkan berlari

Kemudian,
bunuhlah waktu..

Karena cepat atu lambat, waktu akan membunuh mu
Maka bunuhlah dia

Hai hujaan! Apa kabar Jingga?
Aku ingin bertemu Jingga, kau sudah ajak-nya bertemu dahulu.
Tak mungkin lah Jingga datang di malam hari..

Jika kau benar mencintai Jingga,
adalah cinta sejati, seharusnya kau bawa serta dia.
Atau memang tak harus bersama?

Pecahkan lah diam..

Kamu..
Iya bener kamu, yg dulu tdk terlihat atau entah aku yg kemana,
seketika mengalihkan segalanya..

Kau bisa memliki aku dimana saja..

Kurang setia berapa aku sama kamu, Hujan?

Ketika kau datang dg sejuta rasa;
adalah aku, mencari kebahagiaanku sendiri.

Setia, apa yg terjadi dg kamu dan Jingga?





‘puncak kerinduan beserta rinai hujan romantis’, 02 Dec 2012

Kamis, 30 Agustus 2012

MOVE ON (PERMATA)

Move On yang sejatinya Stay On
Sekedar Modus 

'Biarpun harus beranjak, maka beranjaklah saat itu juga.'

'Tapi jangan beranjak dari niatan sebelumnya'

Seandainya Move On yang sebenar-benar nya,

mungkin aku akan lebih rela
Sungguh..

Karena memang persepsi Move On ku berbeda

Walaupun iri tak pernah terbantahkan

Gak ada yang patut di-iri-kan

Persepsiku mengenai konsekuensi

Satu celotehan aku sampaikan ke kamu,

sebenar-benar nya untukmu

HARAPAN yang sangat besar! 

Dalam  pengharapan; hanya kesempatan beberapa bulan, 
mingguuu..

Jangan hari, tidak akan cukup. 

Tapi seandainya terpaksa, dan hanya itu yg bisa didapat, 
gak akan jadi masalah. 

Yaa, 

kemudian biar kamu sendiri yg ambil sikap; mau benar2 melepaskan ku atau memberikan
kesempatan untuk masadepan (kita)

Pengecut donk??


Ketakutan; 'takut' merusak apa yg kamu udah dapat sekarang.


Satu aja sih;

Jangan takut untuk kembali ke sini. 
Beneran deh, jangan diambil ati omonganku waktu ituu.

Kini, 

konsep berdamai dg diri sendiri sudah cukup menyatu dg akal dan nuraniku : ))

Oke

Kembalilah!! Kemudian abadi

Rasa yang sangat besar untuk menyampaikannya sendiri

Siapapun, sampaikan ya?! Angin? Badaii?? Pliss : ))

Sekali lagi, JANGAN TAKUT!


"Mulailah dari memahami, maka apapun pasti akan 'terjadi' "


"Menyerah? Menyesal? Kurasa tidak ! "

"Karna apa yg aku dapatkan dari-Nya, karena aku, hanya untukku, dan terbaik untukku"
Begitu hal nya kamu : )

Mari kembali memainkan crayon-crayon hidup (kita) lagi

Corat coret saja (lagi) setiap kertas putih ku. 
Sungguh..

Kalian tahu, kamu begitu tahu, 

betapa Arogan dan Sombong nya aku kala itu.
Betapa gagahnya aku 

Sepertinya, semua ini memang perlu sampai ke kamu. 

Seperti isyarat mendung kepada hujan
Harus..

Mau bagaimana lagi?

Melalui apalagi?
Siapa lagi?

Di sini semua akan jelas

Sejelas kamu kala itu

Begitu menghormatinya aku akan kamu dan hidupmu (dulu dan) sekarang.


Pilihan..


"Ya..aku sanggup!"

"Tp aku lebih sanggup jika yg akan aku sanggupi itu bisa aku lewati!"

"Jika harus terdiam, 

maka aku akan terdiam..." 
"Tp diamku harus dikarenakan sebuah ketetapan!!"

"Berakhir sebuah pertemuan, bukan berarti penyesalan menghampiri !" 

"Justru perpisahan yg membuatmu kembali melihat.."

Sungguh

Tidak ada niatan lain selain Menghormati dan Menghargaimu
Mengharapkanmu..

Pada akhirnya tulisan ini hanya akan menjadi sebuah coretan;

persepsi

"Mungkin perjalanan kita tak sempurna, 

namun pembelajaran kita sempurna.."

Tulus menggores,

goresan lain pun tak akan jauh beda : ))

Permata..




* curhat bebas, BIGHUG untuk adekku Anastasia Endah Anastika Dewi *

* REBO KLIWON, 29 AGUSTUS 2012 *

Jumat, 20 Juli 2012

TERLUKANYA KOMITMEN



Seharusnya Komitmen bisa mengalahkan segalanya
Mungkin hanya sangkakala.
  


Kecewa, dibohongi dan terbohongi, terkhianati, terlukai,
Merasakannya sayang?
Merasakannya??



Semudah itu melepas Komitmen?
Seperti dg mengucapkannya?


Mungkinkah serendah itu?
Bagiku, nyawa pun taruhannya.



Sehingga nyawa yang telah kau lukai,
Jiwa yang tulus mengamalkan.


Terbeli dengan satu perkara,
Dimana harganya lebih mahal dari sebuah jiwa.
Di matamu..



.Sleman, Suatu Waktu Di Sudut Sendu




B E R S A M B U N G

Senin, 14 Mei 2012

Mengejar Langit Jingga



Berjuta tanya hinggap di anganku.


Apakah tampil sesuai yang kalian inginkan itu lebih baik nan menawan?
Kenapa ketulusan semakin jauh dari kita dan kalian?
Kenapa ingin memberi ‘SESUATU’ ketika memberi pengertian saja tidak mampu?
Apakah aku, kalian lihat seperti aku??

Jawaban-jawaban dan aplikasi spontan yang lucu.
Aku tertawa? Aku tersenyum.
Kedudukan hati masih bisa berubah, tentu saja..
Bagaimana dengan yang lalu? Cukup ditinggalkan tanpa ragu?
Apakah ketulusan yang paling murni adalah ketulusan pada sesuatu yang kita cintai?

Lalu bagamaina pengertian kalian tentang yang demikian?


Terdiam..


Benarkah orang yang sudah lupa diri pantas untuk percaya diri?
Apa yang bisa dipelajari?

Senja, teras sebuah warung.
Di ujung alamanda.
Beberapa manusia kembali belajar, beberapa kalian bersembunyi terpencar.
Berselimut awan hitam pekat bergumul di atapNya,
semacam menghormati sendu kala itu.

Apakah ‘tergilincir’ nya Matahari menggambarkan sesuatu hal yang buruk?
berselimut tebal, hitam..

Komunikasi yang terdengar intim.
Komunikasi yang ber-inti komunikasi.
Komunikasi yang sama, saat beberapa tahun lalu,
hingga ‘terlahir’ kembali seorang manusia.
Pola Komunikasi..

Mengenali, ketika beberapa kalian saling mengetahui nama.
Memahami, saat sebagian paham setiap senandung nada.
Mengerti, dimana beberapa kalian menggunakan fungsi peka dari hati dan logika.
Mendahulukan, ini podium nomor wahid dalam konsep ini,
membunuh ego bersyarat ketulusan penuh cinta.

Sesaat tersudut, tak satupun menepuk bahuku.
Beberapa kalian mempersiapkan memutilasiku ber ramai-ramai.
Dengan tangan dan kaki terikat, pasrah untuk dihakimi. 

Berontak?
Tergantung persepsi, apa yang ku lakukan seketika itu.
Seteru yang menderu.
Sedikit menelaah, berbeda dari sisi otag positip ku.
Tentu saja sisa tenaga ku menjadi sebuah perlawanan kecil,
kemudian beku.

Pandai menganalisa, goblok di aplikasi.
Arogansi berbicara, alam (akan) jadi saksi.

Sudut Alamanda, pelajaran yang tidak selalu dari ruang kelas,
tidak dari buku-buku ber kelas.
Kesalahan kecil nan fatal, yang diketahui.
Akhirnya dipahami dan dimengerti.
Sesaat kami tersenyum, serasa ingin menyibak kekelaman atapNya.

Langit hitam, hati (masih) abu-abu.
Meninggalkan alamanda 'menantang' langit.
Mengikuti arah burung-burung kuntul yang abu-abu karena langit.
Membawa sebuah harapan untuk 'kehidupan'.
Sejatinya, kehidupan tidak akan berjalan tanpa sebuah harapan.

Memacu kuda besi menuju 'Matahari',
dengan sejuta tanya yang masih berkecamuk di hati.
Adrenalin yang terpacu lebih cepat dari besi ini.
Berpikir yang kemudian mematikan intuisi.

Sehingga tersadar,
Matahari memberikan sudut cakrawala 'Langit Jingga'.
Alam seakan memberikan jawab atas hati yang gusar.
Burung-burung yang kembali ke sangkar,
tidak tanpa tujuan adanya.

Langit Jingga.
Senja dan Mengejar Langit Jingga.
Itu jawabNya melalui alam yang berbicara.
Teselimuti dan Terbenamnya Matahari tidak selalu adalah hal buruk.
Saat berani melihat lebih jauh ke ujung cakrawala,
ada keindahan yang dipertontonkan.

Diam akan membuat adem.

Belom waktunya, aku masih ingin berkeringat!!
HA!

Aku sudah putuskan,

untuk 'Mengejar Langit JINGGA'.






(BERSAMBUNG)


Sleman, Minggu 13 Mei 2012