Pernahkah di dalam hidupmu kamu habiskan untuk menghitung detik-detik waktu, yang ternyata memang tidak ada artinya. Bukan hidupnya, namun aktifitasnya yang ternyata hanya akan membuatmu menjadi nampak bodoh dan benar-benar akan menjadi tiada arti.
Pernahkah sebaliknya kamu menikmati setiap detik yang waktu berikan untuk mu. Untuk merasakan setiap tekanan-tekanan kehidupan yang akhirnya nanti akan menjadi kenangan. Tentunya indah atau tidaknya mutlak berada di tangan mu.
Pernahkah hari-hari dalam hidup mu kamu habiskan untuk mengkwatirkan masa depan? Yang semestinya terjadi pada yang akan datang, hingga menjadikan hati tak karuan. Kemudian kamu memutuskan untuk memulai sebuah perjuangan. Ataukah hanya akan kamu pikirkan untuk kemudian?
Pernahkah hari-harimu yang selama ini kamu lewati dengan bahagia yang ternyata perlahan tercabik-cabik oleh masa lalu yang seharusnya menjadi cerita yang sekedarnya? Atau mungkin kamu pernah berharap kepada kehadiran seseorang yang akan membawa cerita masa depan dan menghapus kenangan yang memang seharusnya 'terlupakan'. Atau semestinya kamu harus tersenyum menatap langit yang entah kemudian membawa mendung, yang kamu tahu dia akan membawa serta hujan yang menyejukkan. Memulai perjuangan, tanpa kekwatiran.
Bertahan untuk bertahun-tahun tidak membuatmu menjadi Tuhan. Kamu mungkin telah melewatkan tahun-tahun yang porak poranda, seperti kata WS Rendra. Namun bukan hanya kamu yang hidup di dalam masa dan kemudian merasa yang sama. Karena memang hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh. Bukan juga untuk merasa paling kuat, dan gagah.
Ini adalah hari dimana monolog akan klimaks, menjadi maksimal mencapai puncaknya di dalam setiap tahunnya. Terkecuali saja untuk kondisi-kondisi tertentu. Mungkin hanya akan menjadi refleksi diri-yang tak berarti-tanpa aksi.
Ini adalah hari sebuah angka menjadi 23. Angka yang-seharusnya-sudah cukup jauh dari angka 'Nol'.
Tentunya rasa syukur tidak henti-hentinya terucap oleh mulut atau entah batin mu. Untuk apa? Untuk tahun-tahun yang porak poranda? Ya, namun terlebih untuk kesempatan yang berulang kali diberikan. Tidakkah kamu berpikir, inilah kesempatan dan peluang mu? Untuk kembali memegang dunia dan menggapai akhirat. Bukankah kamu sudah semakin tangguh? Hanya kemudian tinggal beraksi dan semakin tangguh.
Yang aku tahu, kamu pasti tidak ingin melewatkan malam ini hanya dengan tertidur seperti biasa, seperti biasanya kebanyakan orang. Aku pun tahu, kamu bukan ingin untuk berlebihan. Ataukah ada yang kamu tunggu, selain karena memang malam ini menjadi malam refleksi mu? Benar saja kamu tidak tahu, apalagi aku. Namun memang sangat nampak seperti itu, ada yang kamu tunggu. Nampak seperti sebuah harapan. :)
Lalu, bukankah memang ini malam dimana titik tolak mu untuk semua harapan? Dimana semua harapan akan tercurahkan, tentu saja melalui sebuah intropeksi diri yang membuatmu gelagepan. Adakah harapan khusus untuk malam ini? Untuk mengawali semua harapan-harapan tersebut. Sepertinya tebakanku memang benar.
Seseorang yang kamu harapkan-di malam ini-entah untuk apa. Hingga ternyata aku pun mengetahui ternyata semua harapan mu tadi tidak lain adalah berkaitan dengannya. Semoga analisaku tidak salah. Karena memang aura wajah mu memancarkan sebuah rindu yang kuat terhadap seseorang, harapan dan masa depan, yang gemilang.
Selamat ulang tahun, selamat menjadi angka 23. Selamat 'memporak porandakan' masa depan. Dengan segala harapan, yang akan menjadi kekuatan. Sikat saja masa depan. Selamat menjadi lebih baik, selamat memantaskan diri untuk seseorang yang pantas. Ku kira adalah yang malam ini kamu nantikan.
Tentunya kamu sudah lebih memahami tentang refleksi diri dan berdamai dengan diri sendiri. Semoga kado-surat-ku ini berarti bagimu. Jangan buang-buang waktu lagi. Selamat untuk angka 23.
Sleman, 13 Februari 2013
Ttd, Aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar