Senin, 21 Januari 2013

Menjadi Sial Sekaligus Paling Beruntung



Satu-satunya kata yang mewakili aku adalah rindu.

Menjadi sial sekaligus paling beruntung. Ketika aku dan kamu kenal, bersatu atau kah hati yg menjadi buntung.
Dimanapun berada, rindu tetap berada di tempatnya yang gelap gulita, leluasa untuk menguji peka.

Haruskah aku kembali ke bangku sekolah? Untuk belajar tegar, agar seperti ayah?

Mendung terlalu abu sampai lidahku menjadi kaku.
Mendung dan abu bersatu, mengucapkan selamat kepada rindu.

Rindu tidak membutuhkan sajak yang beranak pinak.

Ambisimu yang menggebu-gebu, terhalang oleh hatimu yg keras seperti karang.
Sejak kapan mencari pasangan dengan pangan? Sejak calon-calon ibu mertua meniadakan perasaan.

Sudah lama memelihara burung, kapan aku bisa terbang membumbung? Ketika kamu memupuk cinta kita hingga menggunung.


16 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar