Satu-satunya kata yang mewakili aku adalah rindu.
Menjadi sial sekaligus paling beruntung. Ketika aku dan
kamu kenal, bersatu atau kah hati yg menjadi buntung.
Dimanapun berada, rindu tetap berada di tempatnya yang
gelap gulita, leluasa untuk menguji peka.
Haruskah aku kembali ke bangku sekolah? Untuk belajar
tegar, agar seperti ayah?
Mendung terlalu abu sampai lidahku menjadi kaku.
Mendung dan abu bersatu, mengucapkan selamat kepada rindu.
Rindu tidak membutuhkan sajak yang beranak pinak.
Ambisimu yang menggebu-gebu, terhalang oleh hatimu yg
keras seperti karang.
Sejak kapan mencari pasangan dengan pangan? Sejak calon-calon
ibu mertua meniadakan
perasaan.
Sudah lama memelihara burung, kapan aku bisa
terbang membumbung? Ketika kamu
memupuk cinta kita hingga menggunung.
16 Januari
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar